Secangkir “Minuman Manis”

           

 Manisnya, memang manis, aku sudah terlalu banyak meminumnya,, ku nikmati saja.

Karena memang manis rasanya, sebenarnya apa yang ku minum? Hatiku terus bertanya, tapi ini terlalu manis, sayang jika aku tak meminumnya, terlalu munafik jika aku membuangnya hanya karena ku tak tau apa yang ku minum. Ini bukan kopi, teh, coklat, susu atau apalah itu minuman keras yang sering mereka bicarakan. Minuman ini terlalu manis dari madu. Bahkan terlalu manis dari tebu yang pernah ku hisap-hisap. Sungguh aku tak bisa menggabarkannya dengan kata-kata, padainya orang yang meramunya batinku.

Ah terlalu manis, apa ini? Kembali ku bertanya, dan kau tuan yang memberi, selalu meyakinkan “tak apa, kau minum saja, kau akan baik baik saja, yakinlah aku tak bohong! Minumlah!”

Kembali ku meminum “manis sekali, apa ini? Benarkah yg kau katakan?”

“habiskan saja! Yakinlah!” jawab tuan itu lagi mencoba meyakinkan.

Manis sekali, bahkan aku minta lagi, aku ingin minuman itu lagi, manis sekali.

Tanpa ragu ku teguk saja minuman itu lagi, dan tuan itu tak perlu meyakinkanku lagi, karena aku sudah cukup puas dengan jawabannya, dan terlalu menikmati minuman itu, aku lupa, aku lupa pada logikaku, aku lupa pada diriku, aku lupa pada duniaku, karena terlau ku nikmati minuman itu.

“ mau lagi?” Tanyanya.

“iya, ini enak sekali”, jawabku tanpa ragu.

Entah sudah berapa gelas ku habiskan minuman itu, aku masih saja menikmatinya,, aku lupa pada kantuk ku, aku lupa untuk bertanya lagi.

Manisnya, membahagiakanku seketika, manisnya mengobati hausku, manisnya oh manisnya,, manisnya aku ingin lagi.

“aku boleh minta lagi tuan?” pintaku.

“tentu saja” jawabnya singkat.

Hmm,, manis sekali ini, tapi aneh sekali tuan ini, mau saja dia memberikannya untukku, padahal baru saja aku bertemu dengannya, bahkan dia belum mengenalku, aku jg belum mengenalnya,

Apa maunya tuan ini? Pikiran apa lagi yang merasuki ku, mungkin tuan ini memang orang baik-baik.

Jahat sekali jika aku berpikir buruk tentangnya, padahal dia memberiku minuman manis ini,

Nikmat sekali manisnya,,

Sepertinya tuan ini senang aku menyukai minuman buatannya ini. Dia bangga layaknya barista yang telah membuat kopi paling sempurna untuk penikmatnya.

Aku masih saja menikmati minuman manis buatan tuan ini.

“minuman yang Anda buat ini, nikmat sekali tuan, manis sekali, manisnya membuatku melayang layang, manisnya, tak bisa ku gambarkan. Sepertinya anda orang hebat yaa?” pujiku pada tuan ini.

“berlebihan kamu!” kata Beliau.

“maaf Tuan, tp ini memnag nikmat sekali” ku sambung saja.

“jangan seperti itu!” dengan lembut dia tuangkan minuman manis itu lagi.

“iya Tuan, maafkan aku”, hanya bisa ku nikmati minuman itu dalam diam dan bertanya-tanya dalam pikiranku saja. Tapi sungguh masih hangat dan manis saja minuman ini.

“apa kau masih suka minuman buatanku?” tiba-tiba saja beliau memulai lagi obrolan setelah lama terdiam. Hampir-hampir saja aku lupa ada orang disampingku, karena terlalu menikmati minuman itu. Yang sembari tadi ku nikmati dalam diam, takut salah ngomong pada tuan yang baik hati yang memberiku minuman manis ini.

“iya, masih kok” jawabku singkat saja, takut berlebihan dan tuanku tak mau memberi minuman itu lagi.

“tapi kau minum dalam diam, apa kamu tak suka? Bilang saja? Gak enak ya rasanya? Jujur saja tak apa?” tanyanya mendesakku. Seolah dia tau saja kalau aku sedang tak enak dengannya, karena obrolan kita tadi.

“enak kok, manis dan hangat, aku masih suka”, aku berusaha meyakinkannya.

“benarkah? Jujur saja, aku cuma tak mau kau minum dalam diam!” Tanyanya sambil memerintah, masih saja medesakku. Dia seperti tak puas dengan jawabanku, bukan jawaban itu yang dia mau. Aku tak mengerti. Apa maunya tuan ini.

“jujur minuman yg tuan buat manis sekali, saya suka, tadi saya memang agak tak enak dengan sikap tuan, yang tak mau menerima pujian saya, tapi saya menikmati minuman ini tuan dan saya mengatasi perasaan itu karena manisnya minuman ini. Harusnya saya bagaimana tuan?” jelasku pada tuan ini.

“minuman itu memang manis, karena saya yg membuatnya, haha” katanya bangga, sedikit mencairkan suasana tawanya itu.

“aku hanya ingin yang terbaik untuk penikmat minuman buatanku” misterius sekali pernyataan tuan ini.

“aku juga ingin yang terbaik untuk pembuat minuman yang saya nikmati” jawabku.

Dalam diam kami hanya saling menatap, tuan ini masih saja dalam tatapan misteriusnya, dan aku masih asyik menikmati minuman manis yang entah tak tau apa yang ku minum ini.

“tuan?” tanyaku, karena takut tenggelam dalam diam. diam yang membuat minuman manis ini tak lagi sehangat tadi karena ikut membeku dalam diam antara aku dan tuan ini. Aku takut kehilangan rasa manis minuman ini hanya karena semakin mendingin.

“iya” jawab tuan itu, seperti tak ada kata lain saja, tapi tak bisa disalahkan karena itu jawaban yang benar, tepat, singkat padat dan jelas, (dan tentu saja actual, tajam dan terpercaya, tuan ini yang baru saja mengeluarkannya dari tenggorakannya). Hanya tersenyum saja aku dalam hati, tawa gelisah di hati yang terselimuti ketakutan, dan tawa yang menggigil oleh jawaban dingin tuan ini.

Aku takut sekali tuan ini marah dan tak mau memberi minuman manis ini lagi. Apa masih ada minuman yang sehangat dan semanis ini, seperti buatan tuan ini. Aku takut sekali tuan ini tak mau memberiku lagi.

“minumannya manis, boleh aku minta lagi?” tanyaku hati-hati menyembunyikan ketakutanku.

Tak ada jawaban. Tuan ini kenapa tak mau menjawabku. Ada yang salahkah dengan pertanyaanku. Apa karena aku tak bisa meyakinkan tuan ini tadi bahwa minumannya memang benar-benar manis dan enak. Apa penjelasanku kurang meyakinkan? Aku takut berlebihan tuan, karena tadi tuan yang meminta agar aku tak terlalu berlebihan. Apa aku tak memberi tanggapan yang sesuai pada tuan ini. Apa ada yang salah dengan diriku yang membuat tuan ini sepertinya enggan memberikan minuman manis ini lagi. Apa benar yang ku takutkan selama ini, ketakutan yang ku pendam dan terabaikan karena kuatnya rasa manis minuman yang tuan ini buatkan, ketakutan bahwa ada yang tak beres dengan minuman manis ini.

Hampir-hampir aku tak tau, harus takut tak dapat meminum minuman manis itu lagi ataukah harus takut atas katidakjelasan minuman yang ku minum. Harusnya ku tanyakan dulu tadi sebelum ku minum. Harusnya ku tanyakan pada tuan ini, bahan apa saja yang digunakan untuk membuat minuman ini. Dan harusnya juga kutanyakan kenapa tuan ini memberikannya begitu saja padaku.

Ku lirik tuan itu lagi, harap-harap cemas ku tunggu jawabannya.

Tuan itu masih nyaman dalam diamnya. Membuat malam ini dingin dan semakin dingin saja. Ku kuatkan hatiku dengan meminum sisa minuman manis ini. Ku takut dengan kedinginan ini. Aku berharap minuman manis yang tersisa ini bisa menghangatkan tubuhku, dan menghilangkan ketakutannku. Benar saja, minuman ini sudah tak sehangat tadi, dia pun juga mulai ikut mendingin. Sama persis, seperti tuan pembuat minuman ini.

Siapakah sebenarnya tuan ini? kenapa dia ini? Harus ku salahkan siapa? Tuan ini? Atau aku?

Aku masih ingin menimuan manis ini tuan, dan minuman di cangkirku hampir habis, apa tuan tak mau menuangkannya lagi. Meramukannya lagi untukku. Aku kedinginan tuan oleh sikap tuan, minuman tuan juga sudah ikut mendingin. Kenapa tuan masih saja diam dan dingin seperti itu. Tuan tak kasian ya padaku, yang telah mengenalkan manisnya minuman ini padaku, dan membuatku terlanjaur menyukai minuman ini. Membuatku ketagihan oleh manisnya minuman ini tuan. Tuan tak mau memberikannya lagi?? Minumannya hampir habis tuan, tuan tak lihat ya. Ini malam semakin dingin, aku butuh hangatnnya minuman manis ini tuan, jangan diam saja! Buatkanlah untukku lagi! Tuangkan minuman itu lagi tuan, aku masih menginginkannya, aku masih membutuhkannya tuan!! Tuan tak mengerti ya.

Tuan tak jahat kan. Tuan hanya ingin memastikan saja bahwa aku memnag menyukai minuman buatan tuan. Dan tuan hanya ingin berpikir sejenak saja, dan meyakinkan hati tuan.

Aku hanya bisa berdoa agar tuan mau membuatkannya lagi untukku.

Tak sabar ku tungggu jawaban tuan ini. Dan benar saja tuan ini memang sedang memandangiku. Mata kita bertemu. Takut sekali aku, nafasku hampir habis, satu kata yang terucap dari tuan ini adalah jawaban mutlak apa yang akan terjadi nanti. Ingin ku hentikan saja waktu agar dalam posisi stagnan seperti ini, biar aku dengan sisa minuman manis ini dan tak kehabisan minuman ini. Daripada waktu membuatku meminumnya dalam kedinginan ini yang akhirnya habis. Waktu seakan mencekikku, waktu membuatku takut oleh arti tatapan mata tuan ini, sepertinya dia tak mau memberiku lagi. Aku takut. Karena aku terlanjaur menyukai minuman ini. Harus bagaimanakah aku? Aku akan kehabisan minuman manis ini dan tuan ini tak mau memberi lagi.

Ku biarkan saja semilir dingin angin memeluk setiap detail tubuhku. Biarkan bintang malam menjadi saksi pertemuan aku dan tuan ini jika harus dibawa ke pengadilan alam. Ada hukum disini, di tanah tempatku berpijak sekarang ini. Dan aku tau Tuhanku tak pernah diam, walau tuan ini diam. Tuhanku tak dingin, walau malam ini dingin. Apa saja yang sudah ku minum, biar saja karena minuman ini sudah terlanjur masuk dalam tubuhku. Aku juga sudah menegrti rasa manisnya. Aku tak mungkin mengeluarkan semua yang sudah ku minum kan?? Sudah agak banyak yang kuminum. Aku juga tak sanggup mengeluarkan paksa minuman itu dari tubuhku.

“hmm, tidak, aku tidak bisa memberikannya untukmu lagi, aku tak mau menuangkannya lagi untukmu, kamu adalah penikamat minumanku yang paling baik. Kamu terlalu baik untuk minuman buatanku. Membiarkanmu menjadi penikmat minuman buatanku adalah hal terbaik bagiku, tapi itu saja tidak cukup tanpa komitmen dan kesungguhan, kareana  aku sadar aku bukan pembuat minuman yang sanggup membutannya untukmu disetiap kamu menginginkannya, aku jauh dari itu, maaf atas ketidakonsistensiku, ku harap kau mengerti, aku tak ingin kau terlalu menikmati manisnya minuman itu, kau tak tau dengan apa aku membuatnya, dan bahan apa saja yang ku gunakan, minuman itu tak menjamin dapat membuatmu lebih baik dan lebih bahagia, bukan karena kamu, ini salahku, aku terima kalau kamu sekarang membeciku, itu wajar, tapi aku tak bisa apa-apa selain harus berhenti membuatkan minuman manis itu untukmu demi kebaikanmu, jangan kau mau lagi meminum minuman seperti yang ku buatkan ini, kau terlalu baik untuk ini, maafkan aku, maafkan aku, ”, jawaban tuan itu yang semakin membekukan malam itu, sekaligus menyadarkanku atas kebodohanku. Sekarang aku merasa agak sedikit pusing dan mual. Sudah terlalu banyak yang ku minum apa yang ada diminuman manis itu sebenarnya. Kenapa aku jadi begini?

“iya, tidak apa-apa tuan, aku mengerti, mungkin minuman tuan memang tak menjamin dapat membuat tubuhku lebih baik, minuman yang tuan buat memang tak seharusnya untukku, tak apa jika tuan tidak mau membuatkannya lagi, aku tidak membenci tuan, tuan telah mengajariku banyak hal dan tuan telah mengenalkan padaku manisnya minuman itu, terimakasih telah membuatkan minuman manis itu untukku tuan,semoga tuan bisa tambah handal lagi membuat minuman manis, dan tuan menemukan orang yang benar-benar pantas meminum ramuan tuan dan menemani tuan meramu minuman manis, agar tuan selalu tersenyum saat membuatnya” jawabku sambil tersenyum pada tuan itu, tuan itu sudah baik mau memberikan minuman untukku, dan mengajakku mengobrol sebentar setelah aku lelah menyusuri jalan ini. Aku butuh berhenti dan melepas dahaga, tuan ini telah berbaik hati memberikan minuman untukku. Tak pantas jika aku membencinya, dia juga tak membunuh atau melukaiku, padahal aku orang asing, tapi dia berbaik hati menawariku istirahat sejenak dan menikmati minuman manis buatannya. Sepertinya dia sudah ahli dalam hal ini, yaitu meramu minuman manis.

“terimakasih nona, aku tidak akan melupakanmu, aku senang tidak mebiarkanmu terlalu banyak meminum ramuan itu dan membiarkanmu terlalu lama menggigil karena dinginya malam ini” tanggap tuan itu padaku. Manis sekali tuan ini. Manisnya minuman yang tuan buat ini, tak kalah manis dengan kata-katanya, ahli benar tuan ini. Tepat seperti tebakanku, aku rasa tuan ini peramu minuman manis handal di kota ini.

Aku sudah tak mampu menjawab kalimat terakhir tuan itu, aku semakin pusing dan mual saja hingga tak sanggup berkata-kata, terlalu banyak  sepertinya aku meminum ramuan manis tuan itu.

Samar ku lihat tuan itu memberesi cangkir, sepaket ramuan tadi dan memasukan ke ranselnya. Dia hidupkan lagi lilin yang mulai redup, lilin yang sembari tadi menerangi dan menghangatkan menemani obrolan kita malam ini. Dengan senyum tuan peramu minuman manis  itu meninggalkanku, meninggalkanku sendiri dalam gelap dan dingin malam yang hanya diterangi cahaya lilin. Aku pun tersenyum membalas senyuman manis tuan manis pembuat minuman manis tadi.

“jika kau berpetualang, hayatilah betapa luasnya bumi ini untuk kau telusuri, dan sadarilah ada peramu minuman manis yang lebih layak, lebih baik selain aku untuk menuangkan minuman manis dan membuatkan minuman yang lebih baik,, di sana” ku temukan kalimat singkat dalam kertas yang masih beraroma minuman manis tadi di dekat lilin yang tuan manis nyalakan tadi.

Itu pesan tersurat yang tuan manis tadi tuliskan untukku pasti. Akan ku simpan tuan. Terimakasih telah menemaniku, dan membuatkanku minuman itu tadi, terimakasih atas waktu yang tuam berikan, aku juga tak kan melupakanmu tuan, walau aku tak dapat meminum minuman manis buatan tuan lagi, setidaknya aku sudah tau rasanya. Tuan peramu minuman manis terhebat yang pernah saya kenal. Karena tuan sebenarnya meninggalkan pesan yang cukup singkat dan tak perlu di tuliskan, “jangan terlalu percaya dengan orang yang baru saja anda kenal”.

Semakin lama semakin gelap tak kuat aku menahan pusing dan mual ini. Terlalu banyak racun yang ku minum dari minuman manis buatan tuan itu. Kebodohanku atau kejahatan tuan itu? bisanya tuan itu meramu racun menjadi semanis itu.

***

“meowww” suara milky kucingku membangunkanku dari lamunanku. Terlalu lama aku melamun. Tapi terlalu singkat obrolanku dengan tuan tadi. Aku hanya tertawa sendiri teringat keliaran pikiranku.

Dari tadi aku tenggelam memandangi bintang-bintang di langit yang menyatu dengan kerlip lampu kota, aku hampir tak bisa membedakan mana bintang dan mana lampu kota, mereka menyatu begitu indah, dan membuatku lupa bahwa ada batas disana. Sungguh indah pemandangan ini, andai kamu melihatnya juga.

Cukup dulu untuk malam ini, aku sudah terlalu lelah dan aku sangat mengantuk, aku ingin tidur dulu.  “ayoo masuk milky sayang”ku gendong kucing kesayanganku.

 

“Apa kau melihat bintang yang juga aku lihat?

Apa kau mendengar suara ombak yang juga aku dengar?

Apa kau merasakan hembusan angin yang juga aku rasakan?”  teringat cerita lama.

 

Kututup pintu kamarku yang baru saja ku buka. Aku ingin istirahat dulu. Aku ingin belajar dari lamunanku tadi dan akau juga ingin fokus belajar dulu.(aiss sok rajin saja aku ini)

“milky, kalau kamu tak kan meninnggalkanku kan?” manis sekali milky tidur. Nampaknya dia sudah melayang ke alam mimpi, tak terdengar suara meong-nya. Hey, apa seekor kucing bisa bermimpi juga? Apa seekor kucing juga jatuh cinta? (kucing jatuh cinta pada seekor ikan :D)

Aku yakin saat bintang-bintang menghilang, akan ada mentari pagi yang membangunkanku dengan senyumannya. Selamat malam bintang, aku tak kan melupakan sinar indahmu.

 

6 September 2012, bugel 03:00

 

Secangkir “Minuman Manis”

Manisnya, memang manis, aku sudah terlalu banyak meminumnya,, ku nikmati saja.

Karena memang manis rasanya, sebenarnya apa yang ku minum? Hatiku terus bertanya, tapi ini terlalu manis, sayang jika aku tak meminumnya, terlalu munafik jika aku membuangnya hanya karena ku tak tau apa yang ku minum. Ini bukan kopi, teh, coklat, susu atau apalah itu minuman keras yang sering mereka bicarakan. Minuman ini terlalu manis dari madu. Bahkan terlalu manis dari tebu yang pernah ku hisap-hisap. Sungguh aku tak bisa menggabarkannya dengan kata-kata, padainya orang yang meramunya batinku.

Ah terlalu manis, apa ini? Kembali ku bertanya, dan kau tuan yang memberi, selalu meyakinkan “tak apa, kau minum saja, kau akan baik baik saja, yakinlah aku tak bohong! Minumlah!”

Kembali ku meminum “manis sekali, apa ini? Benarkah yg kau katakan?”

“habiskan saja! Yakinlah!” jawab tuan itu lagi mencoba meyakinkan.

Manis sekali, bahkan aku minta lagi, aku ingin minuman itu lagi, manis sekali.

Tanpa ragu ku teguk saja minuman itu lagi, dan tuan itu tak perlu meyakinkanku lagi, karena aku sudah cukup puas dengan jawabannya, dan terlalu menikmati minuman itu, aku lupa, aku lupa pada logikaku, aku lupa pada diriku, aku lupa pada duniaku, karena terlau ku nikmati minuman itu.

“ mau lagi?” Tanyanya.

“iya, ini enak sekali”, jawabku tanpa ragu.

Entah sudah berapa gelas ku habiskan minuman itu, aku masih saja menikmatinya,, aku lupa pada kantuk ku, aku lupa untuk bertanya lagi.

Manisnya, membahagiakanku seketika, manisnya mengobati hausku, manisnya oh manisnya,, manisnya aku ingin lagi.

“aku boleh minta lagi tuan?” pintaku.

“tentu saja” jawabnya singkat.

Hmm,, manis sekali ini, tapi aneh sekali tuan ini, mau saja dia memberikannya untukku, padahal baru saja aku bertemu dengannya, bahkan dia belum mengenalku, aku jg belum mengenalnya,

Apa maunya tuan ini? Pikiran apa lagi yang merasuki ku, mungkin tuan ini memang orang baik-baik.

Jahat sekali jika aku berpikir buruk tentangnya, padahal dia memberiku minuman manis ini,

Nikmat sekali manisnya,,

Sepertinya tuan ini senang aku menyukai minuman buatannya ini. Dia bangga layaknya barista yang telah membuat kopi paling sempurna untuk penikmatnya.

Aku masih saja menikmati minuman manis buatan tuan ini.

“minuman yang Anda buat ini, nikmat sekali tuan, manis sekali, manisnya membuatku melayang layang, manisnya, tak bisa ku gambarkan. Sepertinya anda orang hebat yaa?” pujiku pada tuan ini.

“berlebihan kamu!” kata Beliau.

“maaf Tuan, tp ini memnag nikmat sekali” ku sambung saja.

“jangan seperti itu!” dengan lembut dia tuangkan minuman manis itu lagi.

“iya Tuan, maafkan aku”, hanya bisa ku nikmati minuman itu dalam diam dan bertanya-tanya dalam pikiranku saja. Tapi sungguh masih hangat dan manis saja minuman ini.

“apa kau masih suka minuman buatanku?” tiba-tiba saja beliau memulai lagi obrolan setelah lama terdiam. Hampir-hampir saja aku lupa ada orang disampingku, karena terlalu menikmati minuman itu. Yang sembari tadi ku nikmati dalam diam, takut salah ngomong pada tuan yang baik hati yang memberiku minuman manis ini.

“iya, masih kok” jawabku singkat saja, takut berlebihan dan tuanku tak mau memberi minuman itu lagi.

“tapi kau minum dalam diam, apa kamu tak suka? Bilang saja? Gak enak ya rasanya? Jujur saja tak apa?” tanyanya mendesakku. Seolah dia tau saja kalau aku sedang tak enak dengannya, karena obrolan kita tadi.

“enak kok, manis dan hangat, aku masih suka”, aku berusaha meyakinkannya.

“benarkah? Jujur saja, aku cuma tak mau kau minum dalam diam!” Tanyanya sambil memerintah, masih saja medesakku. Dia seperti tak puas dengan jawabanku, bukan jawaban itu yang dia mau. Aku tak mengerti. Apa maunya tuan ini.

“jujur minuman yg tuan buat manis sekali, saya suka, tadi saya memang agak tak enak dengan sikap tuan, yang tak mau menerima pujian saya, tapi saya menikmati minuman ini tuan dan saya mengatasi perasaan itu karena manisnya minuman ini. Harusnya saya bagaimana tuan?” jelasku pada tuan ini.

“minuman itu memang manis, karena saya yg membuatnya, haha” katanya bangga, sedikit mencairkan suasana tawanya itu.

“aku hanya ingin yang terbaik untuk penikmat minuman buatanku” misterius sekali pernyataan tuan ini.

“aku juga ingin yang terbaik untuk pembuat minuman yang saya nikmati” jawabku.

Dalam diam kami hanya saling menatap, tuan ini masih saja dalam tatapan misteriusnya, dan aku masih asyik menikmati minuman manis yang entah tak tau apa yang ku minum ini.

“tuan?” tanyaku, karena takut tenggelam dalam diam. diam yang membuat minuman manis ini tak lagi sehangat tadi karena ikut membeku dalam diam antara aku dan tuan ini. Aku takut kehilangan rasa manis minuman ini hanya karena semakin mendingin.

“iya” jawab tuan itu, seperti tak ada kata lain saja, tapi tak bisa disalahkan karena itu jawaban yang benar, tepat, singkat padat dan jelas, (dan tentu saja actual, tajam dan terpercaya, tuan ini yang baru saja mengeluarkannya dari tenggorakannya). Hanya tersenyum saja aku dalam hati, tawa gelisah di hati yang terselimuti ketakutan, dan tawa yang menggigil oleh jawaban dingin tuan ini.

Aku takut sekali tuan ini marah dan tak mau memberi minuman manis ini lagi. Apa masih ada minuman yang sehangat dan semanis ini, seperti buatan tuan ini. Aku takut sekali tuan ini tak mau memberiku lagi.

“minumannya manis, boleh aku minta lagi?” tanyaku hati-hati menyembunyikan ketakutanku.

Tak ada jawaban. Tuan ini kenapa tak mau menjawabku. Ada yang salahkah dengan pertanyaanku. Apa karena aku tak bisa meyakinkan tuan ini tadi bahwa minumannya memang benar-benar manis dan enak. Apa penjelasanku kurang meyakinkan? Aku takut berlebihan tuan, karena tadi tuan yang meminta agar aku tak terlalu berlebihan. Apa aku tak memberi tanggapan yang sesuai pada tuan ini. Apa ada yang salah dengan diriku yang membuat tuan ini sepertinya enggan memberikan minuman manis ini lagi. Apa benar yang ku takutkan selama ini, ketakutan yang ku pendam dan terabaikan karena kuatnya rasa manis minuman yang tuan ini buatkan, ketakutan bahwa ada yang tak beres dengan minuman manis ini.

Hampir-hampir aku tak tau, harus takut tak dapat meminum minuman manis itu lagi ataukah harus takut atas katidakjelasan minuman yang ku minum. Harusnya ku tanyakan dulu tadi sebelum ku minum. Harusnya ku tanyakan pada tuan ini, bahan apa saja yang digunakan untuk membuat minuman ini. Dan harusnya juga kutanyakan kenapa tuan ini memberikannya begitu saja padaku.

Ku lirik tuan itu lagi, harap-harap cemas ku tunggu jawabannya.

Tuan itu masih nyaman dalam diamnya. Membuat malam ini dingin dan semakin dingin saja. Ku kuatkan hatiku dengan meminum sisa minuman manis ini. Ku takut dengan kedinginan ini. Aku berharap minuman manis yang tersisa ini bisa menghangatkan tubuhku, dan menghilangkan ketakutannku. Benar saja, minuman ini sudah tak sehangat tadi, dia pun juga mulai ikut mendingin. Sama persis, seperti tuan pembuat minuman ini.

Siapakah sebenarnya tuan ini? kenapa dia ini? Harus ku salahkan siapa? Tuan ini? Atau aku?

Aku masih ingin menimuan manis ini tuan, dan minuman di cangkirku hampir habis, apa tuan tak mau menuangkannya lagi. Meramukannya lagi untukku. Aku kedinginan tuan oleh sikap tuan, minuman tuan juga sudah ikut mendingin. Kenapa tuan masih saja diam dan dingin seperti itu. Tuan tak kasian ya padaku, yang telah mengenalkan manisnya minuman ini padaku, dan membuatku terlanjaur menyukai minuman ini. Membuatku ketagihan oleh manisnya minuman ini tuan. Tuan tak mau memberikannya lagi?? Minumannya hampir habis tuan, tuan tak lihat ya. Ini malam semakin dingin, aku butuh hangatnnya minuman manis ini tuan, jangan diam saja! Buatkanlah untukku lagi! Tuangkan minuman itu lagi tuan, aku masih menginginkannya, aku masih membutuhkannya tuan!! Tuan tak mengerti ya.

Tuan tak jahat kan. Tuan hanya ingin memastikan saja bahwa aku memnag menyukai minuman buatan tuan. Dan tuan hanya ingin berpikir sejenak saja, dan meyakinkan hati tuan.

Aku hanya bisa berdoa agar tuan mau membuatkannya lagi untukku.

Tak sabar ku tungggu jawaban tuan ini. Dan benar saja tuan ini memang sedang memandangiku. Mata kita bertemu. Takut sekali aku, nafasku hampir habis, satu kata yang terucap dari tuan ini adalah jawaban mutlak apa yang akan terjadi nanti. Ingin ku hentikan saja waktu agar dalam posisi stagnan seperti ini, biar aku dengan sisa minuman manis ini dan tak kehabisan minuman ini. Daripada waktu membuatku meminumnya dalam kedinginan ini yang akhirnya habis. Waktu seakan mencekikku, waktu membuatku takut oleh arti tatapan mata tuan ini, sepertinya dia tak mau memberiku lagi. Aku takut. Karena aku terlanjaur menyukai minuman ini. Harus bagaimanakah aku? Aku akan kehabisan minuman manis ini dan tuan ini tak mau memberi lagi.

Ku biarkan saja semilir dingin angin memeluk setiap detail tubuhku. Biarkan bintang malam menjadi saksi pertemuan aku dan tuan ini jika harus dibawa ke pengadilan alam. Ada hukum disini, di tanah tempatku berpijak sekarang ini. Dan aku tau Tuhanku tak pernah diam, walau tuan ini diam. Tuhanku tak dingin, walau malam ini dingin. Apa saja yang sudah ku minum, biar saja karena minuman ini sudah terlanjur masuk dalam tubuhku. Aku juga sudah menegrti rasa manisnya. Aku tak mungkin mengeluarkan semua yang sudah ku minum kan?? Sudah agak banyak yang kuminum. Aku juga tak sanggup mengeluarkan paksa minuman itu dari tubuhku.

“hmm, tidak, aku tidak bisa memberikannya untukmu lagi, aku tak mau menuangkannya lagi untukmu, kamu adalah penikamat minumanku yang paling baik. Kamu terlalu baik untuk minuman buatanku. Membiarkanmu menjadi penikmat minuman buatanku adalah hal terbaik bagiku, tapi itu saja tidak cukup tanpa komitmen dan kesungguhan, kareana  aku sadar aku bukan pembuat minuman yang sanggup membutannya untukmu disetiap kamu menginginkannya, aku jauh dari itu, maaf atas ketidakonsistensiku, ku harap kau mengerti, aku tak ingin kau terlalu menikmati manisnya minuman itu, kau tak tau dengan apa aku membuatnya, dan bahan apa saja yang ku gunakan, minuman itu tak menjamin dapat membuatmu lebih baik dan lebih bahagia, bukan karena kamu, ini salahku, aku terima kalau kamu sekarang membeciku, itu wajar, tapi aku tak bisa apa-apa selain harus berhenti membuatkan minuman manis itu untukmu demi kebaikanmu, jangan kau mau lagi meminum minuman seperti yang ku buatkan ini, kau terlalu baik untuk ini, maafkan aku, maafkan aku, ”, jawaban tuan itu yang semakin membekukan malam itu, sekaligus menyadarkanku atas kebodohanku. Sekarang aku merasa agak sedikit pusing dan mual. Sudah terlalu banyak yang ku minum apa yang ada diminuman manis itu sebenarnya. Kenapa aku jadi begini?

“iya, tidak apa-apa tuan, aku mengerti, mungkin minuman tuan memang tak menjamin dapat membuat tubuhku lebih baik, minuman yang tuan buat memang tak seharusnya untukku, tak apa jika tuan tidak mau membuatkannya lagi, aku tidak membenci tuan, tuan telah mengajariku banyak hal dan tuan telah mengenalkan padaku manisnya minuman itu, terimakasih telah membuatkan minuman manis itu untukku tuan,semoga tuan bisa tambah handal lagi membuat minuman manis, dan tuan menemukan orang yang benar-benar pantas meminum ramuan tuan dan menemani tuan meramu minuman manis, agar tuan selalu tersenyum saat membuatnya” jawabku sambil tersenyum pada tuan itu, tuan itu sudah baik mau memberikan minuman untukku, dan mengajakku mengobrol sebentar setelah aku lelah menyusuri jalan ini. Aku butuh berhenti dan melepas dahaga, tuan ini telah berbaik hati memberikan minuman untukku. Tak pantas jika aku membencinya, dia juga tak membunuh atau melukaiku, padahal aku orang asing, tapi dia berbaik hati menawariku istirahat sejenak dan menikmati minuman manis buatannya. Sepertinya dia sudah ahli dalam hal ini, yaitu meramu minuman manis.

“terimakasih nona, aku tidak akan melupakanmu, aku senang tidak mebiarkanmu terlalu banyak meminum ramuan itu dan membiarkanmu terlalu lama menggigil karena dinginya malam ini” tanggap tuan itu padaku. Manis sekali tuan ini. Manisnya minuman yang tuan buat ini, tak kalah manis dengan kata-katanya, ahli benar tuan ini. Tepat seperti tebakanku, aku rasa tuan ini peramu minuman manis handal di kota ini.

Aku sudah tak mampu menjawab kalimat terakhir tuan itu, aku semakin pusing dan mual saja hingga tak sanggup berkata-kata, terlalu banyak  sepertinya aku meminum ramuan manis tuan itu.

Samar ku lihat tuan itu memberesi cangkir, sepaket ramuan tadi dan memasukan ke ranselnya. Dia hidupkan lagi lilin yang mulai redup, lilin yang sembari tadi menerangi dan menghangatkan menemani obrolan kita malam ini. Dengan senyum tuan peramu minuman manis  itu meninggalkanku, meninggalkanku sendiri dalam gelap dan dingin malam yang hanya diterangi cahaya lilin. Aku pun tersenyum membalas senyuman manis tuan manis pembuat minuman manis tadi.

“jika kau berpetualang, hayatilah betapa luasnya bumi ini untuk kau telusuri, dan sadarilah ada peramu minuman manis yang lebih layak, lebih baik selain aku untuk menuangkan minuman manis dan membuatkan minuman yang lebih baik,, di sana” ku temukan kalimat singkat dalam kertas yang masih beraroma minuman manis tadi di dekat lilin yang tuan manis nyalakan tadi.

Itu pesan tersurat yang tuan manis tadi tuliskan untukku pasti. Akan ku simpan tuan. Terimakasih telah menemaniku, dan membuatkanku minuman itu tadi, terimakasih atas waktu yang tuam berikan, aku juga tak kan melupakanmu tuan, walau aku tak dapat meminum minuman manis buatan tuan lagi, setidaknya aku sudah tau rasanya. Tuan peramu minuman manis terhebat yang pernah saya kenal. Karena tuan sebenarnya meninggalkan pesan yang cukup singkat dan tak perlu di tuliskan, “jangan terlalu percaya dengan orang yang baru saja anda kenal”.

Semakin lama semakin gelap tak kuat aku menahan pusing dan mual ini. Terlalu banyak racun yang ku minum dari minuman manis buatan tuan itu. Kebodohanku atau kejahatan tuan itu? bisanya tuan itu meramu racun menjadi semanis itu.

***

“meowww” suara milky kucingku membangunkanku dari lamunanku. Terlalu lama aku melamun. Tapi terlalu singkat obrolanku dengan tuan tadi. Aku hanya tertawa sendiri teringat keliaran pikiranku.

Dari tadi aku tenggelam memandangi bintang-bintang di langit yang menyatu dengan kerlip lampu kota, aku hampir tak bisa membedakan mana bintang dan mana lampu kota, mereka menyatu begitu indah, dan membuatku lupa bahwa ada batas disana. Sungguh indah pemandangan ini, andai kamu melihatnya juga.

Cukup dulu untuk malam ini, aku sudah terlalu lelah dan aku sangat mengantuk, aku ingin tidur dulu.  “ayoo masuk milky sayang”ku gendong kucing kesayanganku.

 

“Apa kau melihat bintang yang juga aku lihat?

Apa kau mendengar suara ombak yang juga aku dengar?

Apa kau merasakan hembusan angin yang juga aku rasakan?”  teringat cerita lama.

 

Kututup pintu kamarku yang baru saja ku buka. Aku ingin istirahat dulu. Aku ingin belajar dari lamunanku tadi dan akau juga ingin fokus belajar dulu.(aiss sok rajin saja aku ini)

“milky, kalau kamu tak kan meninnggalkanku kan?” manis sekali milky tidur. Nampaknya dia sudah melayang ke alam mimpi, tak terdengar suara meong-nya. Hey, apa seekor kucing bisa bermimpi juga? Apa seekor kucing juga jatuh cinta? (kucing jatuh cinta pada seekor ikan :D)

Aku yakin saat bintang-bintang menghilang, akan ada mentari pagi yang membangunkanku dengan senyumannya. Selamat malam bintang, aku tak kan melupakan sinar indahmu.

 

6 September 2012, bugel 03:00

Secangkir “Minuman Manis”

DIAM

Diam,

Apa kau tau diamku?

Apa kau tahu diamku itu adalah tangis

Diamku kekecewaan

Diamku adalah air mata yg membeku,

Diamku adalah kata yg tak mampu terucap

 

Apa kau tau?

Diamku tak diam

Diamku bertanya

Diamku menjerit

Diamku berontak

Diamku marah

Diamku tak mau diam

 

Apa kau juga tau?

Diamku adalah doa

Diamku senyuman yg tak terlihat

Diamku tawa yg terikat jiwa

Diamku senandung dalam gelap yg menggema di hati

Diamku melodi cinta yang menari oleh cinta

Diamku adlah jawaban yg bertanya

Diamku rindu yg tersimpan

Diamku, dia sembunyi

Diamku ingin dimengerti

Diamku dia diam sejenak

 

Diamku adalah dialog jiwa, hati dan pikiran

Diamku adlah berteman dengan alam

 

Harusnya kau tau itu!

Diamku berimajinasi

Diam itu kekutan, karena kau tak pernah tau diamku kan?

Diamku membolak balik pikiranku

Diamku mengantar ke hati dan logika

Diamku ingin memadukan yg hak dan yg bukan hak

Diamku, dia bicara sayang,,

 

Diam itu tak diam,

Dan tak pernah diam,

Karena diam itu nyawa yg tersimpan

Diam itu ingin bangkit,,

Diam itu kekutanku, yang tak pernah bisa kau tau,

Diamku diam yg tak tak pernah diam,

Diamku kekuatanku,

Diamku ingin diam,

Diam,,

Diamku hanya bisa diam, jk kau mengajaknya bicara,,

Hentikan diamku dengan suaramu,

Karena diamku akan diam untuk mendengarmu,, 🙂

 

Rintihan Rohku

Rohku keluar begitu

Dengan lambat susupi kehidupan

Ku bebaskan ke luar bebas

Membiarkannya menari-nari

 

Aku merasakannya berhenti

Dia melantunkan kata-kata

Aku tau itu

Kemudian menceritakan cinta

Kepada keluarga angkasa

Dengan tangis yang tak trhenti

Rohku berkata

“hai kamu!!”

Cinta itu indah bukan?

Sosok indah itu menjawab

“yah tentu saja”….

Rohku dengan tangis

Mengharu biru meneruskan

“Di sana,

Cinta membuat

Anak SD mengucap kata sayang

Siswa SMP berani berciuman

Anak SMA hamil begitu

Itu benar cinta?”

 

Bintang kecil dengan angkuh berkata

“oh, malangnya kalian

Itu bukan cinta tapi kebusukan

Cinta di sini indah

Tenang

Penuh kebahagiaan

Kami saling mengerti

 Tak seperti kalian”

 

Rohku kembali menangis

Dia merintih

Akhirnya menjerit keras

 

 

 

 

Lia Daru Calista

21 Februari ‘09

23:21 WIB

 

 

 

 

5 HARI PASCA UJIAN, CURHAT UKM

gak tau mau nulis apa. biarin ngalir aja lah. 

5 hari pasca ujian, gak ada kegiatan, cuma makan, tidur, ngobrol, online, off,, tidur, mandi, makan, on online offf,,

gitu gitu aja, sebuah siklus baru pasca ujian,, huft

hahaha, lama-lama kayak gini bisa gilaaa karena terasing aku,

baru tadi, aku nyempeti keluar,, belanja buat KOPMA tercinta (yang selalu membuatku pusing karena maslah keungannya bgt ribet, kalkulatorku juga mungkin ikut error tak pencet-pencet truss)

habis itu aku ke kantor pos, ngapain??? apa lagi kalau gak beli materai buat di jual di KOPMA,,

 gak tau, seluruh jiwa dan ragaku udah tasih ke KOPMA,, cieeeeeeee alay plus lebay pluss sokk dramatis.

aku awalnya sih iya iya aja dulu di pilih jadi pengurus KOPMA di universitas ku,,

gak taunya tugasnya luar biasa sekaliiiiiiiiiiiiiii,,,,

gapapa,  buat latihan 🙂

hal-hal yang ku dapat dari UKM ini :

DUKA (duka dulu yaa, berakit rakit kita ke hulu,, bersenang-senang ke tepian,, lho?? ehhhh malah nyanyi)

– pulang malem tiap kali rapat ( ku korbankan harga diriku sebagai seorang cewek baik-baik yang manis, harusnya aku gak boleh pergi pergi setelah magrib,, eh tapi karena rapat ku luangkan waktuku sejenak,, gapapa “masalah sementara”)

– nah kalau suruh belnja-belanja aku yang agak ribet “gak ada kendaraan”, aku jalan kalau gak naik bisss(bis sekolah yang ku tunggu ku tunggu ku nanti nantiii haha) , baru ku sadari ini jam tayangku untuk berolahraga berhubung aku gak pernah olahrga(poin positive) 😀

– aku takut salah ngitung,nyatet apa liatt angka angka itu ( jujur gak mau aku kalau suruh nombokin, ngitung aja udah pusing masa iyaa suruh gantiin uang, haha ngomong apa aku ini, itu kan udah tanggugjawabku TIDAK BOLEH PROTESS!!!)

– “mbk besuk bayar “NANANNANAAN>>>> banyak bgt lupa kalau disebutin satu per satu Rp,, segini segini,,,”

Pesan singkat semacam itu okee okee saja, tapi kalau pesan itu datang saat aku lagi ujian, seperti mau meledak rasanya(emosi),,  pesan : sabar liaa sabar (belajar kesabaran), 

– apa lagi yaaa?? udah aja deh dukanya, gak enak juga ngomomgin yang susah-susah,, hidup udah susah, jangan dibuat tambah susahhh, yang simple ajaa :DDDD

 

SUKA ( hmmm, apaa yaa???? heyyy banyak kok,,,)

– seneng aja jadi orang sok sibukkk wkwkwkwkwk (abaikan)haha

– terlau sibuk buat laporan, lupa maslah-maslah,, galau aja kabur tu takut kena semprot kalau aku emosi kali yaaaa hahaha

– tau daftar harga-harga barang (lumayan tambah pengalaman, jadi besuk bisa mengkira-kira kalau mau beli, MAKSUDNYA kalau gak punya uang gak usah beli ) apasihhh haha

– banyak kenalan ( gak tua gak mudaa, jadi tambah temennn, asikkk :D)

– banyak hal-hal konyol yang sering aku jumpai kadang kalau teringat bikin ketawa sendiri,, gak usah disebutin satu per satu yaa hehehe ( yang penting banyak sukanya)

NB :” hahaha” di atas ekspresi senang karena judulnya SUKA

 

organisasi mengajariku banyak hal :

yaitu tentang 

– tanggungjawab

– kepercayaan

– kekompakan

– kesederhanaan

– kerjakeras

– kedisiplinan

 

walau semua itu belum mengalir sepenuhnyaa,, tapi adalah setetes dua tetes mengguyur memberi semangat baru untukku 🙂

kalau belum juga ada yang menetes, akan ku tetes teteskan sendiri,, ngokkkk gak nyambung lagiii 😀

bagi adek adek, daripada galau teruss, yukkk ikut UKM UKM yang sesuai dengan minat dan bakatttt!!!!!!( hey sok dewasa aku ini)

gak ada salahnya kok, cobaaa aja!! semoga beruntung!!!!

 

ENjoyyyyy itttt!!!!! 😀

 

*tanpa judul*

Tuhan,

sulit untukku membacanya,,

samar samar warna itu membingungkannku,

apa aku salah, Tuhan?

 

Aku ingin seperti kuas kecil, Tuhan,

aku ingin melukiskan warna-warna yang hadir dalam hidupku,

Kuatkanlah aku, agar tak mudah patah, Tuhan

aku tau, aku tak kan pernah berarti

tanpa warna-warna indah yang kau ciptakan untukku,

 

sebelum aku patah,

izinkan aku,,

melukiskan cinta dan keindahannya,,

warna dari AYAH dan IBU selalu mempercantik lukisan itu,(terimakasih Tuhan :))

warna dari ADIK-ADIKKU yang membuatnya begitu cerah,

warna dari SAHABAT dan KAWAN KAWAN yang selalu memperjelas lukisanku,

 

dan aku ingin, 

suatu saat Kau hadirkan cinta yang tulus yang mampu menyempurnakan lukisanku,,

 

jika aku tidak berarti dalam hidup ini,

aku ingin setidaknya lukisanku berarti,

untuk orang orang yang kutinggalkan nanti,

aku ingin lukisan itu mereka kenang, Tuhan,,

aku ingin lukisan itu selalu mampu, membuat orang-orang di sekitarku tersenyum,,

bahkan ketika aku “kuas kecil” tiada,,

 

jogja, 10/07/2012

Pesan Pendek

hanya sekedar opini saja,,

cinta adalah hal yang universal,,

masing-masing jiwa mempunyai pemahaman tersendiri tentang cinta,,

tapi yang pasti, setiap manusia pasti merasakan cinta,

dan cinta mampu membuat hal tak mungkin menjadi mungkin,,

cinta bahkan bisa menjadi obat terampuh dari segala jenis obat(maaf, apoteker bisa marah, hehe)

dan menurutku cinta adalah sebuah seni,, :)

dimana kita mampu memadukan senyuman dan airmata,,

airmata untuk sebuah senyum,

dan senyum untuk setetes air mata,,

dan semua itu dilandasi ketulusan dan keiklasan,,

tanpa mengharap lebih, kecuali kebahagiaan orang yang kita cintai,,

 Seni mencintai adalah ketika air matapun ikut tersenyum melihatnya bahagia,,,

untuk Ayah dan Ibu ku :)

01/07/2012 Jogja